This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 25 Agustus 2009

Memuliakan Anak Perempuan

penulis Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran
Sakinah Permata Hati 02 - Maret - 2007 23:19:24

Kelahiran anak laki2 hingga kini dianggap sebagai pelanggeng garis keturunan keluarga. tdk sedikit pula yg menjadikan penanda kehormatan. Sebalik berbagai belitan kesedihan dan rasa malu menghantui pasangan yg ‘hanya’ dikaruniai anak perempuan. Padahal dlm Islam jika anak-anak perempuan itu dimuliakan yg terurai dlm sikap kasih sayang memberikan pendidikan dan pengajaran agama yg baik janji surga telah menantikannya.

Perasaan kecil hati kadang menyelimuti pasangan yg belum juga dikaruniai anak laki-laki. Bahkan tdk sedikit orang tua yg lbh mendambakan bayi yg hendak lahir ini laki2 dibanding keinginan utk mendapatkan anak perempuan. Demikianlah keadaan mayoritas manusia sebagaimana dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yg diberi cobaan dgn anak perempuan kemudian ia berbuat baik pada mereka mk mereka akan menjadi penghalang bagi dari api neraka.”
Al-Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sebagai ibtila’ krn biasa orang tdk menyukai keberadaan anak perempuan.
Bahkan dulu pada masa jahiliyah orang bisa merasa sangat terhina dgn lahir anak perempuan. Sehingga tergambarkan dlm firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِاْلأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيْمٌ. يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُوْنٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar gembira dgn kelahiran anak perempuan merah padamlah wajah dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan diri dari orang banyak krn buruk berita yg disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara anak itu dgn menanggung kehinaan ataukah akan menguburkan hidup-hidup di dlm tanah? Ketahuilah betapa buruk apa yg mereka tetapkan itu.”
Sementara di dlm Kitab-Nya yg mulia Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam perbuatan mengubur anak-anak perempuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا الْمَوْءُوْدَةُ سُئِلَتْ. بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

“Dan ketika anak perempuan yg dikubur hidup-hidup dita atas dosa apakah dia dibunuh.”
Al-Mau`udah adl anak perempuan yg dikubur hidup-hidup oleh orang2 jahiliyah krn kebencian terhadap anak perempuan. Pada hari kiamat dia akan dita atas dosa apa dia dibunuh utk mengancam orang yg membunuhnya. Apabila orang yg dizalimi dita mk bagaimana kira persangkaan orang yg berbuat zalim ?
Demikianlah Islam memuliakan anak perempuan. Selain dlm Al Qur’an dlm Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didapati pula larangan yg jelas dari mengubur anak perempuan. Hadits ini disampaikan oleh Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguh Allah mengharamkan atas kalian durhaka pada ibu menolak utk memberikan hak orang lain dan menuntut apa yg bukan hak serta mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan Allah membenci bagi kalian banyak menukilkan perkataan banyak berta dan menyia-nyiakan harta.”
Wa`dul banat adl menguburkan anak perempuan hidup-hidup sehingga mereka mati di dlm tanah. Ini merupakan dosa besar yg membinasakan pelaku krn merupakan pembunuhan tanpa hak dan mengandung pemutusan hubungan kekerabatan.
Di sisi lain dlm agama yg mulia ini ada anjuran agar orang tua yg dikaruniai anak perempuan memuliakan anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yg menganugerahkan anak perempuan telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yg berbuat kebaikan kepada anak perempuannya.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan:

جَاءَتْنِي مِسْكِيْنَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيْهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا، فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيْدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ وَأَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ

Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua anak perempuan mk aku memberi tiga butir kurma. Kemudian dia memberi tiap anak masing-masing sebuah kurma dan satu buah lagi diangkat ke mulut utk dimakan. Namun kedua anak itu meminta kurma tersebut mk si ibu pun membagi dua kurma yg semula hendak dimakan utk kedua anaknya. Hal itu sangat menakjubkanku sehingga aku ceritakan apa yg diperbuat wanita itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata: “Sesungguh Allah telah menetapkan bagi surga dan membebaskan dari neraka.”
Dalam riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan kedekatan dgn orang tua yg memelihara anak-anak perempuan mereka dgn baik kelak pada hari kiamat:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ -وَضَمَّ أَصَابِعَهُ-

“Barangsiapa yg mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa mk dia akan datang pada hari kiamat nanti dlm keadaan aku dan dia ” dan beliau mengumpulkan jari jemarinya.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan seseorang yg berbuat baik kepada anak-anak perempuan memberikan nafkah dan bersabar terhadap mereka dan dlm segala urusannya.
Masih berkenaan dgn keutamaan membesarkan dan mendidik anak perempuan seorang shahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ، فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَأَطْعَمَهُنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barangsiapa yg memiliki tiga orang anak perempuan lalu dia bersabar atas mereka memberi mereka makan minum dan pakaian dari harta mk mereka menjadi penghalang bagi dari api neraka kelak pada hari kiamat.”
Tidak hanya itu saja dlm berbagai riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggarisbawahi hal ini. Jabir bin Abdillah rahimahullahu mengatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثَُ بَنَاتٍ، يُؤْوِيْهِنَّ، وَيَكْفِيْهِنَّ، وَيَرْحَمُهُنَّ، فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَعْضِ القَوْمِ: وَثِنْتَيْنِ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَثِنْتَيْنِ

“Barangsiapa yg memiliki tiga orang anak perempuan yg dia jaga dia cukupi dan dia beri mereka kasih sayang mk pasti bagi surga.” Seseorang pun berta “Dua juga wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Dan dua juga.”
Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُدْرِكُهُ ابْنَتَانِ، فَيُحْسِنُ صُحْبَتَهُمَّا، إِلاَّ أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang muslim yg memiliki dua anak perempuan yg telah dewasa lalu dia berbuat baik pada kedua kecuali mereka berdua akan memasukkan ke dlm surga.”
Agama yg sempurna ini juga memberikan gambaran tentang pengungkapan sikap kasih sayang orang tua kepada anak perempuannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh bagi umat beliau melalui pergaulan dgn putri beliau Fathimah radhiyallahu ‘anha . Tentang ini ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkisah:

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ كَانَ أَشْبَهَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلاَمًا وَلاَ حَدِيْثًا وَلاَ جِلْسَةً مِنْ فَاطِمَةَ. قَالَتْ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَآهَا قَدْ أَقْبَلَتْ رَحَّبَ بِهَا، ثُمَّ قَامَ إِلَيْهَا فَقَبَّلَهَا، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهَا حَتَّى يُجْلِسَهَا فِي مَكَانِهِ، وَكَانَ إِذَا أَتَاهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحَّبَتْ بِهِ، ثُمَّ قَامَتْ إِلَيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ

“Aku tdk pernah melihat seseorang yg lbh mirip dgn Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm cara bicara maupun duduk daripada Fathimah.” ‘Aisyah berkata lagi “Biasa apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Fathimah datang beliau mengucapkan selamat datang pada lalu berdiri menyambut dan mencium kemudian beliau menggamit tangan hingga beliau dudukkan Fathimah di tempat duduk beliau. Begitu pula apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang pada mk Fathimah mengucapkan selamat datang pada beliau kemudian berdiri menyambut menggandeng tangan lalu menciumnya.”
Demikian pula yg dilakukan oleh sahabat beliau yg terbaik Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu . Diceritakan oleh Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu:

دَخَلْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ عَلَى أَهْلِهِ، فَإِذَا عَائِشَةُ ابْنَتُهُ مُضْطَجِعَةٌ قَدْ أَصَابَتْهَا حُمَّى، فَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ يُقَبِّلُ خَدَّهَا وَقَالَ: كَيْفَ أَنْتِ يَا بُنَيَّةُ؟

“Aku pernah masuk bersama Abu Bakr menemui keluarganya. Ternyata ‘Aisyah putri sedang terbaring sakit panas. Aku pun melihat Abu Bakr mencium pipi putri sambil berta ‘Bagaimana keadaanmu wahai putriku?”
Dalam hal pemberian Islam juga mengajarkan utk memberikan bagian yg sama antara anak laki2 dan perempuan. Hal ini berdasarkan hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu:

تَصَدَّقَ عَلَيَّ أَبِي بِبَعْضِ مَالِهِ. فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لاَ أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفَعَلْتَ هذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلاَدِكُمْ. فَرَجَعَ أَبِي فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ

“Ayahku pernah memberiku sebagian harta lalu ibuku ‘Amrah bintu Rawahah mengatakan pada “Aku tdk ridha hingga engkau minta persaksian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” mk ayahku pun menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk meminta persaksian beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berta pada “Apakah ini kau lakukan pada semua anakmu?” “Tidak” jawab ayahku. Beliau pun bersabda “Bertakwalah kepada Allah tentang urusan anak-anakmu.” Ayahku pun kembali dan mengambil kembali pemberian itu.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan tentang hadits ini bahwa semesti orang tua menyamakan di antara anak-anak dlm hal pemberian. Dia berikan pada seorang anak sesuatu yg semisal dgn yg lain dan tdk melebihkan serta menyamakan pemberian antara anak laki2 dan perempuan.
Begitu pula dari sisi pendidikan orang tua harus memberikan pengajaran dan pengarahan kepada anak-anak termasuk anak perempuannya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيْمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا جَدْعَاءَ؟

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah mk kedua orang tuanyalah yg menjadikan Yahudi Nasrani atau Majusi. Sebagaimana binatang ternak akan melahirkan binatang ternak yg sempurna. Apakah engkau lihat ada binatang yg lahir dlm keadaan telah terpotong telinganya?”
Seorang anak yg terlahir di atas fitrah ini siap menerima segala kebaikan dan keburukan. Sehingga dia membutuhkan pengajaran pendidikan adab serta pengarahan yg benar dan lurus di atas jalan Islam. mk hendak kita berhati-hati agar tdk melalaikan anak perempuan yg tdk berdaya ini hingga nanti dia hidup tdk ubah binatang ternak. Tidak mengerti urusan agama maupun dunianya. Sesungguh pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada teladan yg baik bagi kita.
Bahkan ketika anak perempuan ini telah dewasa orang tua selayak tetap memberikan pengarahan dan nasehat yg baik. Ini dapat kita lihat dari kehidupan seseorang yg terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dlm peristiwa turun ayat tayammum. Diceritakan peristiwa ini oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالْبَيْدَاءِ أَوْ بِذَاتِ الْجَيْشِ انْقَطَعَ عِقْدٌ لِي، فَأَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى التِّمَاسِهِ، وَأَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ، وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ. فَأَتَى النَّاسُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ فَقَالُوا: أَلاَ تَرَى مَا صَنَعَتْ عَائِشَةُ؟ أَقَامَتْ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسِ، وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ. فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعٌ رَأْسَهُ عَلَى فَخِذِي قَدْ نَامَ. فَقَالَ: حَبَسْتِ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسَ، وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَعَاتَبَنِي أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُوْلَ، وَجَعَلَ يَطْعُنُنِي بِيَدِهِ فِي خَاصِرَتِي، فَلاَ يَمْنَعُنِي مِنَ التَّحَرُّكِ إِلاَّ مَكَانُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى فَخِذِي. فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ أَصْبَحَ عَلََى غَيْرِ مَاءٍ، فَأَنْزَلَ اللهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ، فَتَيَمَّمُوا. فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ الْحُضَيْرِ: مَا هِيَ بِأَوَّلِ بَرَكَتِكُمْ يَا آلَ أَبِي بَكْرٍ. قَالَتْ: فَبَعَثْنَا البَعِيْرَ الَّذِي كُنْتُ عَلَيْهِ، فَأَصَبْنَا العِقْدَ تَحْتَهُ

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm salah satu safarnya. Ketika kami tiba di Al-Baida’ –atau di Dzatu Jaisy– tiba-tiba kalungku hilang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun singgah di sana utk mencari dan orang2 pun turut singgah bersama beliau dlm keadaan tdk ada air di situ. Lalu orang2 menemui Abu Bakr sembari mengeluhkan “Tidakkah engkau lihat perbuatan ‘Aisyah? Dia membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang2 singgah di tempat yg tdk ada air sementara mereka pun tdk membawa air.” Abu Bakr segera mendatangi ‘Aisyah. Sementara itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang tidur sambil meletakkan kepala di pangkuanku. Abu Bakr berkata “Engkau telah membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang2 singgah di tempat yg tdk berair padahal mereka juga tdk membawa air!” Aisyah melanjutkan “Abu Bakr pun mencelaku dan mengatakan apa yg ia katakan dan dia pun menusuk pinggangku dgn tangannya. Tidak ada yg mencegahku utk bergerak krn rasa sakit kecuali krn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang tidur di pangkuanku. Keesokan hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dlm keadaan tdk ada air. mk Allah turunkan ayat tayammum sehingga orang2 pun melakukan tayammum. Usaid ibnul Hudhair pun berkata “Ini bukanlah barakah pertama yg ada pada kalian wahai keluarga Abu Bakr.” ‘Aisyah berkata lagi “Kemudian kami hela unta yg kunaiki ternyata kami temukan kalung itu ada di bawahnya.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan bahwa di dlm hadits ini terkandung ta`dib seseorang terhadap anak baik dgn ucapan perbuatan pukulan dan sebagainya. Di dlm juga terkandung ta`dib terhadap anak perempuan walaupun dia telah dewasa bahkan telah menikah dan tdk lagi tinggal di rumahnya.
Inilah di antara pemuliaan Islam terhadap keberadaan anak perempuan. Tidak ada penyia-nyiaan tdk ada peremehan dan penghinaan. Bahkan diberi kecukupan dilimpahi kasih sayang diiringi pendidikan yg baik agar kelak memberikan manfaat bagi kedua orang tua di negeri yg kekal abadi.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Seputar Zakat Fitrah dan Hari Raya ‘Iedul Fitri

penulis Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah
Syariah Problema Anda 07 - November - 2004 10:11:51

Zakat Fitrah
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dita tentang hukum mengeluarkan zakat fitrah pada sepuluh hari pertama pada bulan Ramadhan?
Beliau rahimahullah menjawab: Kata zakat fitrah berasal dari kata al-fithr krn dari al-fithr inilah sebab dinamakan zakat fitrah. Apabila berbuka dari Ramadhan merupakan sebab dari penamaan ini mk zakat ini terkait dengan dan tdk boleh mendahului . Oleh sebab itu waktu yg paling utama dlm mengeluarkan adl pada hari ‘Ied sebelum shalat . Akan tetapi diperbolehkan utk mendahului sehari atau dua hari sebelum ‘Ied agar memberi keleluasaan bagi yg memberi dan yg mengambil. Sedangkan zakat yg dilakukan sebelum hari-hari tersebut menurut pendapat yg kuat di kalangan para ulama adl tdk boleh. Berkaitan dgn waktu penunaian zakat fitrah ada dua bagian waktu:
1. Waktu yg diperbolehkan yaitu sehari atau dua hari sebelum ‘Ied
2. Waktu yg utama yaitu pada hari ‘Ied sebelum shalat
Adapun mengakhirkan hingga usai melaksanakan shalat mk hal ini haram dan tdk sah sebagai zakat fitrah. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma:
وَمَنْ أَدَّاهاَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكاَةٌ مَقْبُوْلَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهاَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقاَتِ
“Barangsiapa yg menunaikan sebelum shalat mk zakat diterima. Dan barangsiapa menunaikan setelah shalat mk itu termasuk dari shadaqah.”
Kecuali apabila orang tersebut tdk mengetahui hari ‘Ied. Misal dia berada di padang pasir dan tdk mengetahui kecuali dlm keadaan terlambat atau yg semisalnya. mk tdk mengapa bagi utk menunaikan setelah shalat ‘Ied dan itu mencukupi sebagai zakat fitrah.1
Beliau rahimahullah ditanya: Kapankah waktu mengeluarkan zakat fitrah? Berapa ukurannya? Bolehkah menambah takarannya?
Beliau rahimahullah menjawab: Zakat fitrah adl makanan yg dikeluarkan oleh seseorang di akhir bulan Ramadhan dan ukuran adl sebanyak satu sha’2. Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan sebanyak satu sha’ kurma atau gandum.” Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan shadaqatul fithr sebagai pembersih bagi orang yg berpuasa dari perbuatan yg sia-sia dan kata-kata keji serta sebagai makanan bagi orang2 miskin.”
Maka zakat fitrah itu berupa makanan pokok masyarakat sekitar. Pada masa sekarang yakni kurma gandum dan beras. Apabila kita tinggal di tengah masyarakat yg memakan jagung mk kita mengeluarkan jagung atau kismis atau aqith . Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu: “Dahulu kami mengeluarkan zakat pada masa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu sha’ dari makanan dan makanan pokok kami adl kurma gandum kismis dan aqith.”
Waktu mengeluarkan adl pada pagi hari ‘Ied sebelum shalat berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma: “Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar zakat ditunaikan sebelum kaum muslimin keluar utk shalat” dan hadits ini marfu’. Dan dlm hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Barangsiapa yg mengeluarkan sebelum shalat mk itu zakat yg diterima dan barangsiapa yg menunaikan setelah shalat mk hal itu shadaqah.”
Dibolehkan utk mengawalkan sehari atau dua hari sebelum ‘Ied dan tdk boleh lbh cepat dari itu. Karena zakat ini dinamakan zakat fitrah disandarkan kepada al-fithr . Seandai kita katakan boleh mengeluarkan ketika masuk bulan mk nama zakat shiyam. Oleh krn itu zakat fithr dibatasi pada hari ‘Ied sebelum shalat dan diringankan dlm mengeluarkan sehari atau dua hari sebelum ‘Ied.
Adapun menambah takaran lbh dari satu sha’ dgn tujuan utk ibadah mk termasuk bid’ah. Namun apabila utk alasan shadaqah dan bukan zakat mk boleh dan tdk berdosa. Dan lbh utama utk membatasi sesuai dgn yg ditentukan oleh syariat. Dan barangsiapa yg hendak bershadaqah hendak secara terpisah dari zakat fitrah.
Banyak kaum muslimin yg berkata: Berat bagiku utk menakar dan aku tdk memiliki takaran. mk aku mengeluarkan takaran yg aku yakini seukuran yg diwajibkan atau lbh dan aku berhati-hati dgn hal ini.
Maka yg demikian ini dibolehkan.

Hari Raya ‘Iedul Fitri
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dita tentang hukum menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan pada hari ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha serta malam 27 Rajab Nishfu Sya’ban dan hari ‘Asyura?
Beliau rahimahullah menjawab: Tidak mengapa menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan pada hari-hari ‘Ied seperti ‘Iedul Fitri atau ‘Iedul Adha selama dlm batas-batas syar’i. Di antara seseorang makan dan minum atau yg semisalnya. Telah tsabit dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dlm salah satu hadits beliau:
أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشَرْبٍ، وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Hari-hari tasyriq adl hari-hari makan dan minum dan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala“ yaitu dlm tiga hari setelah ‘Iedul Adha yg barakah. Demikian pula pada hari ‘Ied kaum muslimin menyembelih dan memakan qurban mereka serta meni’mati ni’mat Allah atas mereka. Dan juga pada hari ‘Iedul Fitri tdk mengapa menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan selama tdk melampaui batasan syar’i.
Sedangkan menampakkan kegembiraan pada malam 27 Rajab atau Nishfu Sya’ban atau di hari ‘Asyura mk hal tersebut tdk ada asal dan dilarang . Dan apabila diundang utk merayakan hendak tdk menghadiri berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ
“Hati-hatilah kalian terhadap perkara baru krn sesungguh tiap bid’ah itu sesat dan tiap kesesatan tempat di an-naar.” Adapun malam 27 Rajab orang2 mengatakan sebagai malam Mi’raj yaitu malam di-mi’raj-kan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Allah. Padahal hal ini tdk tsabit dari sisi sejarah. Dan segala sesuatu yg tdk tsabit mk batil dan tiap yg dibangun di atas kebatilan mk batil .
Seandai pun benar bahwa malam Mi’raj pada tanggal 27 Rajab mk kita dilarang utk mengadakan sesuatu yg baru berupa syi’ar-syi’ar ‘Ied ataupun sesuatu dari perkara ibadah krn hal itu tdk tsabit dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tdk pula dari shahabatnya. Apabila tdk tsabit dari orang yg di-mi’raj-kan dan juga tdk tsabit dari shahabat yg mereka lbh utama dlm hal ini dan paling bersemangat terhadap Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat mk bagaimana mungkin kita boleh mengada-adakan sesuatu yg tdk ada di masa Nabi r dlm memuliakan hari-hari tersebut dan tdk pula dlm menghidupkannya? Dan sesungguh sebagian tabi’in menghidupkan dgn shalat dan dzikir bukan dgn makan dan bergembira serta menampakkan syiar-syiar ied.
Adapun hari ‘Asyura mk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dita tentang puasa pada hari itu mk beliau menjawab:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْماَضِيَةَ
“Menghapuskan dosa setahun yg lalu” yakni setahun sebelum hari itu. Dan tdk ada syi’ar-syi’ar ‘Ied sedikit pun pada hari tersebut. Sebagaimana hal pada hari tersebut tdk ada syi’ar-syi’ar ‘Ied mk tdk ada pula syi’ar-syi’ar kesedihan pula sedikit pun. Menampakkan kegembiraan atau kesedihan pada hari tersebut merupakan perbuatan yg menyelisihi As Sunnah. Dan tdk diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari itu kecuali puasa sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita utk berpuasa sehari sebelum atau sesudah utk menyelisihi Yahudi yg berpuasa pada hari itu saja.
.

1 Begitu pula seandai berita ‘Ied datang tiba-tiba dan tdk memungkinkan bagi utk menyerahkan kepada yg berhak sebelum shalat ‘Ied atau krn udzur lainnya. Dan ini dinamakan mengqadha krn udzur.
2 Yaitu sha’ Nabawi. Adapun ukuran Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyatakan berdasarkan ukuran mudd yg dietmukandi reruntuhan di Unaizah yg terbuat dari tembaga dan tertulis padanya: Milik Fulan dari Fulan.. sampai kepada Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu adl senilai 2040 kg gandum yg bagus . Jika dinilaikan dgn beras mk sekitar 2250 kg.
Ada juga yg menyatakan bahwa 1 sha’ Nabawi ukuran sekitar 3 kg sebagaimana fatwa Asy-Syaikh Ibnu Baz dan juga Asy-Syaikh Alu Bassam dlm Taudhihul Ahkam menyatakan bahwa 1 sha’ Nabawi ukuran 3000 gr bila diukur dgn hinthah .Sehingga kebiasaan kaum muslimin di Indonesia yg menunaikan zakat fitrah dgn ukuran 25 kg beras insya Allah sudah mencukupi.

Sumber: www.asysyariah

Kamis, 20 Agustus 2009

Al-Qur`an Obat Segala Penyakit

penulis Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
Syariah Tafsir 27 - Juli - 2006 08:45:52

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yg menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang2 yg beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang2 yg dzalim selain kerugian.”

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

نُنَزِّلُ

“Kami turunkan.” Jumhur ahli qiraah membaca dgn diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membaca dgn tanpa tasydid . Sedangkan Mujahid membaca dgn diawali huruf ya` dan tanpa tasydid . Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs.

مِنَ الْقُرْآنِ

“dari Al-Qur`an.” Kata min dlm ayat ini menurut pendapat yg rajih menjelaskan jenis dan spesifikasi yg dimiliki Al-Qur`an. Kata min di sini tdk bermakna “sebagian” yg mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur`an ada yg tdk termasuk syifa` sebagaimana yg dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu. Kata min pada ayat ini seperti hal yg terdapat dlm firman-Nya:

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang2 yg beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yg shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi..”
Kata min dlm lafadz مِنْكُمْ tidaklah bermakna sebagian sebab mereka seluruh adl orang2 yg beriman dan beramal shalih.

شِفَاءٌ

“Penyembuh.” Penyembuh yg dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit baik rohani maupun jasmani sebagaimana yg akan dijelaskan dlm tafsirnya.

Penjelasan Tafsir Ayat
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang kitab-Nya yg diturunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Al-Qur`an yg tdk terdapat kebatilan di dlm baik dari sisi depan maupun belakang yg diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji bahwa sesungguh Al-Qur`an itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan kemunafikan kesyirikan penyimpangan dan penyelisihan yg terdapat dlm hati. Al-Qur`an-lah yg menyembuhkan itu semua. Di samping itu ia merupakan rahmat yg dengan membuahkan keimanan hikmah mencari kebaikan dan mendorong utk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yg mengimani membenarkan serta mengikutinya. Bagi orang yg seperti ini Al-Qur`an akan menjadi penyembuh dan rahmat.
Adapun orang kafir yg mendzalimi diri sendiri mk tatkala mendengarkan Al-Qur`an tidaklah bertambah bagi melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu bukan pada Al-Qur`annya. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيْدٍ

“Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adl petunjuk dan penawar bagi orang2 yg beriman. Dan orang2 yg tdk beriman pada telinga mereka ada sumbatan sedang Al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adl orang2 yg dipanggil dari tempat yg jauh’.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيْمَانًا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ. وَأَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُوْنَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat mk di antara mereka ada yg berkata: ‘Siapakah di antara kamu yg bertambah iman dgn surat ini?’ Adapun orang2 yg beriman mk surat ini menambah iman sedang mereka merasa gembira. Adapun orang2 yg di dlm hati mereka ada penyakit mk dgn surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafiran dan mereka mati dlm keadaan kafir.”
Dan masih banyak ayat-ayat yg menjelaskan tentang hal ini.”
Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata pula dlm menjelaskan ayat ini:
“Al-Qur`an mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tdk berlaku utk semua orang namun hanya bagi kaum mukminin yg membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang2 dzalim yg tdk membenarkan dan tdk mengamalkan mk ayat-ayat tersebut tidaklah menambah bagi kecuali kerugian. Karena hujjah telah ditegakkan kepada dgn ayat-ayat itu.
Penyembuhan yg terkandung dlm Al-Qur`an bersifat umum meliputi penyembuhan hati dari berbagai syubhat kejahilan berbagai pemikiran yg merusak penyimpangan yg jahat dan berbagai tendensi yg batil. Sebab ia mengandung ilmu yakin yg dengan akan musnah tiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasehat serta peringatan yg dengan akan musnah tiap syahwat yg menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu Al-Qur`an juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit.
Adapun rahmat mk sesungguh di dlm terkandung sebab-sebab dan sarana utk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu mk dia akan menang dgn meraih rahmat dan kebahagiaan yg abadi serta ganjaran kebaikan cepat ataupun lambat.”

Al-Qur`an Menyembuhkan Penyakit Jasmani
Suatu hal yg menjadi keyakinan tiap muslim bahwa Al-Qur`anul Karim diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala utk memberi petunjuk kepada tiap manusia menyembuhkan berbagai penyakit hati yg menjangkiti manusia bagi mereka yg diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dirahmati-Nya. Namun apakah Al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit jasmani?
Dalam hal ini para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yg mengkhususkan penyakit hati; Ada pula yg menyebutkan penyakit jasmani dgn cara meruqyah ber-ta’awudz dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan Al-Qurthubi dlm Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan Asy-Syaukani dlm Fathul Qadir lalu beliau berkata: “Dan tdk ada penghalang utk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.”
Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullahu dlm kitab Zadul Ma’ad:
“Al-Qur`an adl penyembuh yg sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah tiap orang diberi keahlian dan taufiq utk menjadikan sebagai obat. Jika seorang yg sakit konsisten berobat dengan dan meletakkan pada sakit dgn penuh kejujuran dan keimanan penerimaan yg sempurna keyakinan yg kokoh dan menyempurnakan syarat niscaya penyakit apapun tdk akan mampu menghadapi selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yg memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung mk ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi mk ia akan membelahnya. mk tdk satu pun jenis penyakit baik penyakit hati maupun jasmani melainkan dlm Al-Qur`an ada cara yg membimbing kepada obat dan sebab nya.”
Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dgn Al-Qur`an.
Di antara adl apa yg diriwayatkan Al-Bukhari Muslim dan lain dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.Beliau radhiallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkena sihir1 sehingga beliau menyangka bahwa beliau mendatangi istri padahal tdk mendatanginya.
Lalu beliau berkata: ‘Wahai ‘Aisyah tahukah kamu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satu duduk di sebelah kepalaku dan yg lain di sebelah kakiku. Yang di sisi kepalaku berkata kepada yg satunya: ‘Kenapa beliau?’
Dijawab: ‘Terkena sihir.’
Yang satu bertanya: ‘Siapa yg menyihirnya?’
Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi ia seorang munafiq.’
bertanya: ‘Dengan apa?’
Dijawab: ‘Dengan sisir rontokan rambut.’
bertanya: ‘Di mana?’
Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yg ada di bawah sumur Dzarwan’.”
‘Aisyah radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Nabi lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau mengeluarkannya. Beliau lalu berkata: ‘Inilah sumur yg aku diperlihatkan seakan-akan air adl air daun pacar dan pohon korma seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan. Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tdk mengeluarkan ?’ Beliau menjawab: ‘Demi Allah sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebar kejahatan di kalangan manusia’.”
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dlm Shahih- . Juga dlm Shahih- . Juga diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i sebagaimana yg terdapat dlm Musnad Asy-Syafi’i Al-Asfahani dlm Dala`ilun Nubuwwah dan Al-Lalaka`i dlm Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah . Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah :

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Hingga selesai bacaan surah tersebut.”
Demikian pula yg diriwayatkan Al-Imam Bukhari rahimahullahu dlm Shahih- dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu beliau berkata:
“Sekelompok2 shahabat Nabi berangkat dlm suatu perjalanan yg mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.
Selang beberapa waktu kemudian pemimpin kampung tersebut terkena sengatan . Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan namun sedikitpun tdk membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yg berkata: ‘Kalau sekira kalian mendatangi sekelompok orang itu mungkin sebagian mereka ada yg memiliki sesuatu.’
Mereka pun mendatangi lalu berkata: “Wahai rombongan sesungguh pemimpin kami tersengat . Kami telah mengupayakan segala hal namun tdk membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu? Sebagian shahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah aku bisa meruqyah. Namun demi Allah kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tdk menjamu kami. mk aku tdk akan meruqyah utk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’
Mereka pun setuju utk memberi upah beberapa ekor kambing3. mk dia pun meludahi dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin . Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.
Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. Sebagian shahabat berkata: ‘Bagilah.’ Sedangkan yg meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan hingga kita menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita menceritakan kepada apa yg telah terjadi. Kemudian menunggu apa yg beliau perintahkan kepada kita.’
Merekapun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melaporkan hal tersebut. mk beliau bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu memang ruqyah?’ Lalu beliau berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah dan berilah untukku bagian bersama kalian’ sambil beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa.”
Adapun hadits yg diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ الدَّوَاءِ الْقُرْآنُ

“Sebaik-baik obat adl Al-Qur`an.”
Dan hadits:

الْقُرْآنُ هُوَ الدَّوَاءُ

“Al-Qur`an adl obat.”
Kedua adl hadits yg dha’if telah dilemahkan oleh Al-Allamah Al-Albani rahimahullahu dlm Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir no. 2885 dan 4135.

Membuka Klinik Ruqyah
Di antara penyimpangan terkait dgn ruqyah adl menjadikan sebagai profesi seperti hal dokter atau bidan yg membuka praktek khusus. Ini merupakan amalan yg menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh Shalih Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dlm meruqyah:
“Pertama dan yg paling besar adl menjadikan bacaan atau ruqyah sebagai sarana utk mencari nafkah di mana dia memfokuskan diri secara penuh utk itu. Memang telah dimaklumi bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokuskan diri utk itu bukanlah bagian dari petunjuk para shahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yg sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para shahabat dan tabi’in.
baru muncul di masa-masa belakangan. Petunjuk Salaf dan bimbingan As-Sunnah dlm meruqyah adl seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudara baik dgn upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikan sebagai profesi seperti hal dokter yg mengkhususkan diri . Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tdk terdapat pada zaman generasi pertama.
Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yg kami saksikan pada orang2 yg mengkhususkan diri telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yg mengkhususkan diri utk meruqyah niscaya engkau mendapati memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yg harus dia tunaikan dan yg harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk. Barangsiapa meruqyah melalui kaset-kaset suara-suara di mana dia membaca di sebuah kamar sementara speaker berada di kamar yg lain dan yg semisal merupakan hal yg menyelisihi nash. Ini sepantas dicegah utk menutup pintu . Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yg mempopulerkan perkara-perkara yg terlarang atau yg tdk diperkenankan syariat.

1 Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan orientalis dan ahli bid’ah mengingkari hadits yg menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena sihir dan berusaha menolak dgn berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah –walhamdulillah- para penolak hadits ini dlm sebuah kitab yg berjudul Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar-Rafidhi Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadits. Silahkan merujuk kepada kitab tersebut.
2 dlm riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.
3 dlm riwayat lain: 30 ekor kambing sesuai jumlah mereka.

Rabu, 15 Juli 2009

Keutamaan Zikir


1. Apabila kamu melewati taman-taman surga makan dan minumlah sampai kenyang. Para sahabat lalu bertanya Apa yg dimaksud taman-taman surga itu ya Rasulullah? Beliau menjawab Kelompok zikir .
2. Menyebut-nyebut Allah adl suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adl penyakit .
3. Demi yg jiwaku dalam genggamanNya kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir pasti para malaikat akan bersalaman dgn kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yg kamu lalui. Tetapi wahai Handhalah kadangkala begini dan kadangkala begitu.

{Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Handhalah hingga diulang-ulang tiga kali}.
4. Rasulullah Saw menyebut-nyebut Allah tiap waktu .
5. Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yg tidak seumpama orang hidup dan orang mati.
6. Nyanyian dan permainan hiburan yg melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yg jiwaku dalam genggamanNya sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan.
7. Dua kalimat ringan diucapkan lidah berat dalam timbangan dan disukai oleh Arrohman yaitu kalimat: Subhanallah wabihamdihi subhanallahil ‘Adzhim {Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya Maha suci Allah yg Maha Agung}.
8. Ada empat perkara barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga dan dia dalam naungan cahaya Allah yg Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya Laailaha illallah .

Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan Alhamdulillah jika berbuat salah dia mengucapkan Astaghfirullah dan jika ditimpa musibah dia berkata Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.
9. Maukah aku beritahu amalanmu yg terbaik yg paling tinggi dalam derajatmu paling bersih di sisi Robbmu serta lbh baik dari menerima emas dan perak dan lbh baik bagimu daripada berperang dgn musuhmu yg kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab Ya. Nabi Saw berkata Zikrullah.
10. Menang pacuan Almufarridun . Para sahabat bertanya Apa Almufarridun itu? Nabi Saw menjawab Laki-laki dan wanita-wanita yg banyak berzikir kepada Allah.
Penjelasan: Almufarid ialah orang yg gemar zikrullah dan selalu mengamalkannya dan tidak peduli apa yg dikatakan atau diperbuat orang terhadapnya.
11. Seorang sahabat berkata Ya Rasulullah sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku.

Beritahu aku sesuatu yg dapat aku menjadikannya pegangan. Nabi Saw berkata Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah . {HR.

Ahmad dan Tirmidzi}
1
2. Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yg secukupnya.

Penjelasan: Rezeki yg secukupnya artinya yg cukup utk memenuhi kebutuhan dan keperluan dan tidak berlebih-lebihan.
1
3. Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah :
Maha suci yg memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta Maha suci yg memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan Maha suci yg hidup kekal dan tidak mati. {HR.

Ad-Dailami}

1
4. Aku bertanya Ya Rasulullah apa keuntungan dan keberuntungan yg diperoleh dari majelis zikir ? Nabi Saw menjawab Keuntungan dan keberuntungan yg diperoleh dari majelis zikir ialah surga.

1
5. Tiada amal perbuatan anak Adam yg lbh menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah.

1
6. Wahai Aba Musa maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab Ya. Nabi berkata La haula wala Quwwata illa billah. . {HR.

Ibnu Hibban dan Ahmad}

Sumber: 1100 Hadits Terpilih - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press

[keluarga-sejahtera] Adab Rajab, Amalan Dzikir dan Salat di Bulan Rajab

Adab Rajab, Amalan Dzikir dan Salat di Bulan Rajab
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani
Diambil dari http://mevlanasufi.blogspot.com

Rangkaian Shalat Malam :
Bangun 2 jam sebelum subuh, Mandi dan berwudhu. Mulailah dengan Niat, Nawaitul
Arbain, Nawaitul Itikaf, Nawaitul Khalwa, Nawaitul ¡¥Uzla, Nawaitur Riadha,
Nawaitus Suluk, Nawaitu Siam, Lillahi Ta¡¦ala al Azhiim fi hadzal masjid (atau
fi hadzal jami¡¦)

Salah Sunah :
2 rakaat shalat sunnat wudhu, Dzikir 100 kali ¡¥Ya Halim¡¦ (untuk menghilangkan
kemarahan), 100 kali ¡¥Ya Hafiz¡¦ (untuk menghilangkan kesulitan dan
kesengsaraan)

Salawat Nabi saw :
(Bayangkan diri anda berada di Taman yang diberkati di depan makam Rasulullah
(al-Rawda) menghadap Rasulullah dan ucapkan 100 kali ¡§Allahumma shalli ¡¥alaa
Muhammadin wa ¡¥alaa aali Muhammadin wa sallim.¡¨ Miliki niat bahwa Allah swt
akan mempertemu kan kita dengan Rasulullah saw, Imam Mahdi as dan Maulana
Syaikh Nazim Adil al Haqqani.

Doa
(i)¡§Ya Rabbi ¡¥izzati wal ¡¥azamati wal Jabbarut.¡¨
(ii)Bergerak 3 langkah ke depan, diawali dengan kaki kanan, sambil menghadap
kiblat dan berdo¡¦a, ¡§Ya Rabbi, aku melangkah ke depan untuk meraih Maqam
al-Fana filLah, Ya Allah Subhanahu wa Ta¡¦ala, Aku memohon kepada-Mu untuk
melenyapkan diriku dalam Kehadirat-Mu, Ya Rabbi, Aku bergerak menuju Samudra
Ke-Esa-an, Samudra Wahdaniyyah, Ya Rabbi janganlah Engkau menolakku hingga aku
mencapai Maqam al-Fardani yang unik.¡¨

¡§Ya Rabbi, karena bulan ini adalah bulan-Mu--Rajabun SyahrulLah¡Xaku datang
kepada-Mu sebagai tamu yang lemah dan berniat untuk beribadah kepada-Mu tanpa
meminta apapun sebagai balasannya. Maksud dan tujuanku hanyalah Engkau semata
dan itulah sebabnya aku datang, aku mohon janganlah Engkau menolakku.¡¨

¡§Ya Rabbi, seluruh hidupku telah kuhabiskan dalam kekafiran, syirik dan
berprilaku buruk. 100% kunyatakan bahwa aku tidak pernah melakukan satu amalan
pun yang Engkau terima. Engkau adalah Allah , Anta Allah, Yang tidak pernah
mengusir orang yang datang ke pintu-Mu. Anta Allah, tiada seorang pun yang
datang ke pintu-Mu dengan amalannya, melainkan dengan bantuan dan rahmat-Mu.

¡§Ya Rabbi, aku datang ke pintu-Mu, aku datang kepada-Mu untuk menyatakan dan
mengakui bahwa aku salah dan aku ingin menyatakan dan mengumumkan keislamanku
bagaikan baru masuk Islam. Ya Rabbi, aku telah menyerahkan segalanya ke dalam
genggaman-Mu¡Xkehidupanku, kematianku, kehidupanku di hari kemudian, Hari
Kiamat dan seluruh hartaku telah kupersembahkan kepada-Mu dan Engkaulah yang
mengawasiku.¡¨

¡§Ya Rabbi, aku tidak memiliki sesuatu selain ego dan jiwaku. Aku tidak bisa
mendatangkan kebaikan atau keburukan kepada diriku, serta hidup atau kematian
kepada diriku, semuanya telah kuserahkan kepada-Mu. Seluruh penilaian-Mu
terhadapku dan semua pertanyaan-Mu kepadaku serta seluruh jawabanku telah
kuserahkan kepada-Mu. Apapun yang ingin Kau lakukan terhadapku, Engkau
melakukannya. Leherku ada di genggaman-Mu, aku tidak berdaya dalam menjawab
pertanyaan-Mu, bahkan jawaban terkecil pun aku tidak bisa menjawabnya. Dengan
segala kelemahan dan ketidakberdayaan serta tidak adanya harapan ini aku datang
ke pintu-Mu.¡¨

Aku menyatakan kepada-Mu bahwa aku harus memperbarui Iman dan Syahadat serta
amalanku. Dan Syahadat ini adalah amal pertama bagiku setelah aku mengucapkan
Syahadat dan masuk Islam dan Engkaulah yang menjadi Wakil bagiku.

a)¡§Ya Wakil, Hasbun Allah wa Ni¡¦mal Wakil. Wa laa hawla wa laa quwwata illa
bil Lahil ¡¥Aliyyil ¡¥Azhim.¡¨
b)¡§Syahadat 3 kali (dengan mengacungkan jari telunjuk)

¡§Ya Rabbi, sebagaimana Grandsyaikh Syaikh ¡¥Abdullah al-Faiz ad-Daghestani dan
Syaikhku Maulana Syaikh Nazhim al-Qubrusi al-Haqqani yang melakukan khalwat di
bulan ini, maka apapun niat yang mereka miliki, Ya Allah, jadikanlah aku
menyatu dengan niat mereka, sebab lidahku tidak dapat mengucapkan apa yang
perlu diucapkan, jadi aku mohon agar niatku dapat menyatu dengan niat mereka.
Dengan niat ini aku datang ke pintu-Mu.¡¨

¡§Ya Rabbi, sejak hari Alastu bi Rabbikum, Qaalu bala¡Xapapun janjiku
kepada-Mu, aku menerimanya dan aku berjanji untuk melaksanakan semuanya. Ya
Allah, Ya Tuhanku, sejak hari di mana Engkau menciptakan atomku, Zarrahku, dan
sejak hari di mana Engkau meniupkan rohku, dan sejak hari di mana jiwaku muncul
dari tempat yang benar-benar abstrak menjadi nyata, hingga kini, berapa banyak
ketidakpatuhan telah kulakukan, dari Zarrahku, jiwaku dan tubuhku baik secara
fisik maupun spiritual--Zahiran wal Baathinan. Aku menyesali semuanya dan aku
menyesali apa yang telah kukerjakan dan aku kembali kepada-Mu untuk memohon
ampunan dan penyesalan.¡¨

¡§Ya Rabbi, aku masuk dan bergerak ke dalam Samudra Berkah dari bulan-Mu yang
penuh pujian. Ya Rabbi, janganlah Engkau menolakku dari pintu-Mu dan janganlah
Engkau meninggalkan diriku kepada egoku walau hanya dalam sekejap mata dan aku
memohon ampunan dengan mengucapkan¡K¡¨ (Astaghfirullah 70 kali).
Kemudian duduk kembali.

a) Tutupi diri anda dengan kain putih yang tipis.
b) Terangi dengan cahaya lilin

1. Fatiha(dengan niat telah disandangkan dengan tajalli yang turun ke Mekkah)
1x
2. Amana Rasul 1x
3. Alam Nasyrah 7 kali
4. Al Ikhlash 11 kali
5. Falaq
6. An-Nas
7. La ilaha ¡¥illah Lah 10 kali
8. Shalawat 10 kali

9. Doa ¡§Ila Syarafin Nabiyyi wa ¡¥alihi wa sahbihil kiram, wa ila
masyayyikhina fit thariqatin Naqsybandiyyatil ¡¥Aliyyah, khaassatan ila ruhi
imamit thariqa wa Ghawtsil khaliqa Syah Bahauddin Naqsyband Muhammadinil
Uwaysil Bukhari, Wa ¡¥ila Maulana Sulthanil Awliya Syaykh ¡¥Abdullah al-Faiz
ad-Daghestani, wa Syaykhina Maulana Syaykh Sulthanul Awaliya Syaykh Muhammad
Nazhim al-Haqqani¡¨

10. Fatiha (dengan niat telah disandangkan dengan tajalli yang turun ke
Madinah)
11. Ya Allah 5000 kali (dalam hati)
12. Ya Allah 5000 kali (dengan suara keras)
13. Shalatul Najat
14. Shalatul Syukur
15. Shalatul Tasbih
16. Shalatul Tahajjud
17. Shalawat 1000 kali
18. Ikhlash 100 kali (dengan niat mengganti 1 juz al-Quran)
19. Shalawat 100 kali (mengganti Dala¡¦il al-Khayrat)
20. Ya Shamad 500 kali (dengan niat membunuh ego)
21. Astaghfirullah 500 kali (dengan niat sejak diciptakannya jiwa kita sampai
hari ini Allah akan mengampuni dosa-dosa kita)
22. Astaghfirullah 500 kali (dengan niat sejak hari ini sampai hari terakhir di
bumi Allah akan melindungi kita dari dosa)
23. Alhamdulillah 500 kali (sebab Allah tidak menciptakan kita menjadi ummat
nabi-nabi yang lain)
24. Alhamdulillah 500 kali (sebab Allah telah menciptakan kita sebagai ummat
Rasulullah dan mendapat kehormatan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, Abdul
Khaliq al-Ghujdawani, Syaikh Sayyid Syarafuddin ad-Dagesthani ƒÛ, dan mendapat
kehormatan melalui Grandsyaikh Syaikh ¡¥Abdullah al-Faiz ad-Daghestani ƒÛƒndan
kita mendapat kehormatan dengan menjadi pengikut Maulana Syaikh Muhammad Nazhim
al-Haqqani

Awrad Tambahan
Sebagai tambahan terhadap awrad yang telah diselesaikan tadi, Maulana Syaikh
Nazhim ƒÛƒnmeminta murid-muridnya untuk menambahkannya dengan awrad berikut:
Astaghfirullah 'azhiim wa atuubu ilayh 700 kali
Bismillahir Rahmaanir Rahiim 100 ¡V 1000 kali
Ya Wadud 100 ¡V 1000 kali
Hasbun Allahu wa Ni'amal Wakiil 100 ¡V 1000 kali
la hawla wa la quwatta illa billah il-`aliiyyi il-`azhiim 100 ¡V 1000 kali
La ilaha illAllah 1000 kali
Qul hu Allahu Ahad (surat al-Ikhlash) 100 ¡V 1000 kali
Hasbun Allahu wa Ni'amal Wakiil 700 kali
Ya Sayyid, Ya Shahib, Ya Shiddiq, Ya Rasul, Ya Allah 300 kali, Ya Wadud 300
kali, Astaghfirullah 'azhiim wa atuubu ilayh 700 kali
Selain itu, porsi harian dari buku do¡¦a Hizbul `Azham dari Sayyidina ¡¥Ali
(karamAllahu wajha) sebaiknya dibaca dan pada hari jumat Hizbul wikayya juga
dibaca. Hizbul wikayya

Do¡¦a
Ini adalah do¡¦a untuk bulan suci Rajab, dibaca 3 kali sehari sebagaimana yang
diwasiatkan oleh Maulana Syaikh Muhammad Nazhim dan deputinya Syaikh Hisyam
al-Kabbani ƒ|

A¡¦udzu billahi min asy-syaytan ir-rajiim Bismillah ir-Rahman ir-Rahiim
Allaahumma innii astaghfiruka min kulli maa tubtu lahu ilayka tsumma 'udtu
fiih. wa astaghfiruka min kulli maa 'aradtu bihi wajhika wa-khaalatanii fiihi
maa laysa fiihi ridaak. wa astaghfiruk li-ni`am allatii taqawwaytu biha `ala
ma`asiiyatik. wa astaghfiruka min aadz-dzunub allatii laa ya`lamahu ghayruka wa
laa yattali`u `alayha ahadun siwaak wa laa yasa`uha illa rahmatika wa la tunjii
minha illa maghfiratuka wa hilmuka. laa ilaha illa-Anta, subhaanaka innii kuntu
min adz-dzaalimiin. Allaahumma innii astaghfiruka min kulli dzulmin dzalamtu
bihi `ibadaka. Fa ayyaama `abdin min `ibaadik aw `amatin min 'imaa'ika dzalamtu
fii badanihi aw `irdihi aw maalih fa `atihi min khazaa'inik allatii laa tanqus.
Wa as'aluka an tukrimanii bi-rahmatika allatii wasi`at kulla syay wa laa
t`uhiinanii min `adaabik wa ta`tiiayanii maa as'aluka fa-innii haqiiqun
bi-rahmatik ya arham ar-Raahimiin. wa shalla-Allahu `alaa Sayyidinaa Muhammadin
wa `alaa aalihi wa sahbihi ajma`iin. wa laa hawla wa laa quwatta
illa billah il-`Alii ul-'Aazhiim

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Ya Allah, Aku
memohon ampun kepada-Mu atas segala kesalahan yang telah kulakukan. Dan aku
memohon ampun kepada-Mu atas segala hal dariku yang tidak Kau sukai dan segala
hal yang berhubungan denganku yang tidak Kau ridhai. Dan aku memohon ampun
kepada-Mu atas nikmat yang telah kugunakan untuk menambah ketidakpatuhanku
terhadap-Mu.

Dan aku memohon ampun atas segala dosa yang tiada seorang pun tahu kecuali
Engkau dan tiada seorang pun yang melihat kecuali Engkau dan tiada yang
mencakupi kecuali rahmat-Mu dan tiada yang mengantarkan kecuali ampunan-Mu dan
rahmat-Mu. Tidak ada Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, dan
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim! Ya Allah, aku memohon ampun
kepada-Mu atas ketidakadilan yang kulakukan terhadap hamba-hamba-Mu baik
laki-laki maupun perempuan yang telah kusakiti baik fisiknya maupun martabatnya
atau dalam kepunyaan mereka yang telah Kau berikan dengan karunia-Mu yang tak
kurang sedikit pun.

Aku memohon kepada-Mu, anugerahkanlah aku dengan rahmat-Mu yang mencakup
segalanya. Janganlah Engkau rendahkan aku dengan hukuman-Mu tetapi berilah apa
yang kuminta kepada-Mu, sebab aku sangat memerlukan rahmat-Mu, Ya Allah Engkau
Maha Penyayang di antara semua penyayang. Semoga Allah melimpahkan berkah
kepada Nabi Muhammad dan seluruh pengikutnya. Tiada daya dan kekuatan kecuali
dari Allah Yang Maha tinggi dan Maha Agung.

Berkah dan kedamaian semoga dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad saw, keluarga
dan seluruh pengikutnya.

Wa billahi taufi wal Hidayah Wassalamu 'alaikum Warah amtullahi Wabarakatu